Fakta bahwa Forex bukan judi

Sampai saat ini, yang masih belum memahami dunia finansial masih saja mengira bahwa jual beli mata uang asing atau Forex adalah judi. Saya mencoba memberikan penjelasan tentang masalah ini.

Trading Forex atau valas adalah jual beli. Mengapa? Karena dalam realitas trading forex ada tiga unsur (pembeli, penjual dan barang yang dijual):

  • Pembeli = trader Forex, yang membuka posisi jual atau beli.
  • Penjual = broker yang menjadi perantara trader dengan pasar valas.
  • Barang yang dijual = mata uang asing, yang harganya selalu naik turun.

Catatan: perlu digaris bawahi bahwa peran sebagai pembeli dan penjual selalu tukar menukar, saat trader menjadi pembeli, maka broker menjadi penjual dan saat trader menjadi penjual maka broker menjadi pembeli.

Jadi, karena tiga unsur ini nyata, maka bagaimana bisa disebut judi? Ini adalah jual beli yang hanya saja mediumnya berbeda, yang dahulunya orang harus bertemu dan tatap muka serta memegang barang dagangannya, kini tanpa bertemu dan jual beli secara elektronik. Esensi trading Forex adalah jual beli.

Jika ada yang bertanya, “Oke, bukan judi, tapi valas atau mata uang asing itu tidak nyata.”

Maka saya jawab, “Mata uang asing itu nyata.”

Mengapa? Karena saat kita profit dan ingin mencairkan profit itu broker akan melayani dan mengirimkan uang tersebut. Saat kita rugi kita benar-benar kehilangan uang. Apa yang tidak nyata?

Ya, memang benar broker-broker Forex memang tidak memegang langsung mata uang asing yang kita perdagangkan, apakah hanya karena mereka tidak memegang langsung mata uang asing tersebut lalu bisa dikatakan uang yang diperdagangkan tidak nyata?

Kalo tetap ada yang bersikeras mengatakan bahwa uang yang diperdagangkan di pasar Forex tidak nyata, coba saya tanya, apakah seorang agen tiket pesawat terbang benar-benar memiliki tiket yang dipegang di tangannya untuk dijual kepada pembeli tiket? Jawabannya pasti tidak. Agen tiket, apa lagi agen tiket online, dia sama sekali TIDAK MEMILIKI tiket (tiket pesawat misalnya) yang dipegang di tangannya untuk dijual ke penumpang. Ya, ketika penumpang datang membeli tiket secara online, agen tersebut membayarkan sejumlah uang kepada maskapai agar tiket yang dipesan diterbitkan. Setelah terbit tiket itu sampai ke tangan penumpang.

Faktanya, perubahan kehidupan modern membuat sebagian orang bingung dengan apa yang terjadi. Padahal jika dipikir lebih lanjut, semuanya jelas esensinya.

Misalnya, Anda menaruh sejumlah uang di salah satu cabang bank kesayangan Anda di Jakarta. Lalu Anda pergi ke Medan dan menarik uang Anda melalui ATM. Secara fisik, uang kertas yang Anda ambil di ATM bukanlah uang yang Anda depositkan saat ada di Jakarta. Tapi secara hukum baik Islami maupun non Islami, uang yang Anda ambil dari ATM tersebut adalah uang Anda.

Trading Forex pun juga demikian, uang yang Anda dapatkan dari profit trading adalah uang nyata. Sebagaimana kerugiannya juga nyata.

Mungkin Forex dianggap judi karena sebagian trader rugi lalu sebagian lainnya untung, uang yang hilang dari kantong kelompok trader pertama masuk ke kantong kelompok trader kedua. Lalu apakah karena fenomena seperti itu Forex disebut judi?

Lucu sekali jika dengan berfikir sesederhana itu seseorang bisa menyebut Forex sebagai judi. Karena menurut saya, faktor yang membuat kelompok trader pertama rugi dan kelompok trader kedua untung bukanlah faktor “perjudian” melainkan pasar yang nyata. Bedanya alat judi dengan pasar adalah, alat judi itu mengandung probabilitas untung rugi yang rationya 1:1 dan tak ada jual beli di dalamnya. Sedangkan pasar adalah fakta yang kompleks yang naik turun nilainya dikarenakan berbagai faktor fundamental yang nyata, termasuk psikologi para pelaku pasar adalah faktor nyata yang mempengaruhi naik turunnya harga. Intinya, untung rugi trader-trader tersebut dikarenakan jual beli.

Jika Anda mengerti arti pasar yang sebenarnya, di mana harga selalu ditentukan dengan faktor supply dan demand, Anda bakal memberikan kesimpulan yang berbeda.

Menjelaskan fakta pasar Forex dengan sebuah gambaran

Seluruh kelompok trader Forex di dunia saya ibaratkan sebagai 10 anak kecil. Kemudian saya ibaratkan broker-broker Forex sebagai seorang anak bernama Andi, dia adalah salah satu anak dari sebuah keluarga besar. Kemudian saya ibaratkan negara-negara pemilik mata uang masing-masing sebagai keluarga besar dan tuan rumah yang berjumlah 10 orang. Lalu saya ibaratkan mata uang setiap negara sebagai sebagai sebutir kelereng; karena setiap anggota keluarga besar itu memiliki satu butir kelereng maka keseluruhan ada 10 kelereng.

Mereka berkumpul di meja bundar. Di atas meja bundar terdapat 10 butir kelereng. Kelereng itu ada ditengah-tengah meja dan tak satu pun dari 10 anak itu memiliki kelereng. Karena tidak ada yang menginginkan kelereng-kelereng tersebut, maka kelereng yang ada di atas meja sama sekali tidak berharga, yakni harganya Rp. 0.

Andi (sorang broker) berkata kepada 10 anak itu, “Di atas meja ini ada 10 butir kelereng. Sepertinya asik untuk dibuat bermain nanti.”

Mendengar perkataan Andi, 5 anak kecil yang ada tertarik untuk memiliki kelereng-kelereng tersebut, akhirnya setiap satu anak dari 5 anak yang tertarik tersebut membeli dua kelereng. 5 anak itu membayarkan uangnya melalui Andi, Andi menyerahkan uang itu ke anggota keluarga besar, lalu Andi pun mendapat komisi yang ia kantong. Kelereng tersebut habis tak tersisa di atas meja. Saat itu setiap butir kelereng berharga Rp. 100.

Lambat laun, 5 anak yang membeli kelereng tersebut menjadi ragu, mengapa 5 anak lainnya tidak tertarik membeli kelereng. 3 anak dari 5 anak yang membeli kelereng berubah pikiran, kehilangan ketertarikannya terhadap kelereng yang dimiliki. 3 anak tersebut menjual seluruh kelerengnya dengan harga Rp. 70 per butir, sedang 2 anak lainnya teguh pada pendirian masing-masing dan tetap memiliki kelereng mereka. Kini ada 6 butir kelereng di atas meja dengan harga Rp. 70 per butirnya.

5 anak yang dari awal tidak membeli kelereng, kini menjadi tertarik karena melihat harga kelereng di atas meja yang tadinya Rp. 100 menjadi Rp. 70. Sejujurnya mereka ingin membeli kelereng itu dari awal, namun mereka tidak punya cukup uang. Begitu harganya turun dan mereka merasa cukup uang, akhirnya mereka berniat membeli kelereng-kelereng tersebut. Setiap anak dari 5 anak tersebut (5 anak yang sebelumnya tidak membeli kelereng dengan harga Rp. 100) membeli 1 butir kelereng dengan harga Rp. 85 per butirnya. Akhirnya tinggal 1 butir kelereng di atas meja yang belum terjual, harganya pun Rp. 90.

Kemudian salah satu dari 3 anak yang sempat menjual kelereng membeli 1 kelereng yang tersisa dengan harga Rp. 90.

Tak lama kemudian, para anggota keluarga besar datang langsung dan ingin membeli kelereng-kelereng tersebut seharga Rp. 120 per butirnya.

Cukup sampai di sini saja ceritanya, kini kita lakukan kalkulasi tentang apa yang terjadi dengan keuangan 10 anak tersebut, siapa yang untung dan siapa yang rugi:

  • Harga kelereng per butir di awal cerita adalah Rp. 100 namun di akhir cerita harganya Rp. 120.
  • Dua anak dari lima anak masing-masing membeli sebutir kelereng seharga Rp. 100 lalu di akhir cerita harga kelereng di atas meja Rp. 120. Maka setiap dari dua anak itu mendapatkan untung Rp. 20 untuk setiap butir kelerengnya (total masing-masing untung Rp. 40).
  • Tiga anak berikutnya yang mana tiap anak mulanya membeli kelereng dengan harga Rp. 100, lalu menjualnya dengan harga Rp. 70 per butir. Sampai di situ setiap anak mendapat kerugian sebesar -Rp. 30 untuk setiap butir kelereng (total kerugian -Rp. 60 tiap anak). Tapi salah satu dari tiga anak itu, akhirnya membeli kembali kelereng dengan harga Rp. 90, lalu di akhir cerita harga kelereng naik menjadi Rp. 120 dan anak yang satu ini, yang mulanya rugi -Rp. 60 kini mendapat untung sebesar Rp. 30. Jika ditotal kerugiannya hanya -Rp. 30, jauh lebih sedikit dari dua anak sebelumnya.
  • Sedangkan 5 anak terakhir, yang setiap dari mereka sama-sama membeli sebutir kelereng dengan harga Rp. 85 lalu di akhir cerita harga kelereng Rp. 120, yang artinya mereka untung Rp. 35 untuk setiap butir kelereng (total untung Rp. 70 tiap anak).
  • Andi sebagai broker selalu meminta komisi tiap kali ada transaksi. Andi pun tidak mengalami kerugian sama sekali.

Kesimpulan: Anak no 1 & 2 masing masing untung Rp. 40. Anak no 3 & 4 rugi masing-masing -Rp. 60. Anak no 5 rugi -Rp. 30. Anak no 6 sampai 10 untung Rp. 70.

Di sini Anda melihat keuntungan dan kerugian, Anda juga melihat bagaimana uang dari kantong satu anak masuk ke kantong anak lainnya. Tapi apakah yang menjadi faktor berpindahnya uang, keuntungan dan kerugian itu adalah perjudian? Tentu tidak, melainkan jual beli. Lalu di mana letak kesalahannya sehingga disebut judi?

10 anak di atas, Andi si broker, 10 butir kelereng, 10 anggota keluarga besar, semuanya nyata.

Begitu pula di pasar Forex, sekian trader Forex, sekian broker, sekian negara dengan mata uangnya, dan sekian jumlah uang yang harganya naik dan turun, semuanya nyata. Tidak ada yang tidak nyata.

Oke, sebagai penutup, mungkin ada sebagian pihak yang merasa dirugikan, atau ada sebagian broker yang ternyata broker palsu dan tak diregulasi, atau kasus-kasus serupa, ya hal-hal seperti itu memang ada, tapi kita tidak mungkin memukul rata permasalahan. 

Komentar